Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Rasulullah dan aisyah

CANDA RASULULLAH KETIKA SAKIT KEPALA Pada suatu hari, Rasulullah menemui Aisyah. Saat itu beliau dalam kondisi sakit kepala yang sangat berat. Ternyata di waktu yang sama Aisyah juga sedang mengeluhkan hal yang sama. "Kepalaku sakit" kata Aisyah kepada Rasulullah. "Aku juga, demi Allah wahai Aisyah, aku juga merasakan sakit kepala yang amat sangat" jawab Rasulullah. Lalu Rasulullah melanjutkan. "Apabila kamu meninggal dunia terlebih dahulu, maka tenanglah, aku akan mengurusmu, menyalati dan mengiringi jenazahmu." Apa jawab Aisyah kemudian? "Demi Allah, sungguh aku dapat menebak, jika memang itu terjadi, maka engkau akan berduaan dengan salah seorang istrimu di rumahku padasore harinya." kata Aisyah kemudian dengan nada merajuk. Rasulullah hanya tertawa mendengar perkataan Aisyah ini. KUDA TERBANG 'AISYAH Ketika Rasulullah dalam perjalanan kembali pulang dari Perang Tabuk atau Khaibar, tiba-tiba angin berhembus kencang hingga menyingkap...

Perampok yang Bertaubat

Suatu hari Abdul Qadir yang masih belia meminta izin ibundanya untuk pergi ke kota Bagdad. Bocah ini ingin sekali mengunjungi rumah orang-orang saleh di sana dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka. Sang ibunda merestui. Diberikanlah kepada Abdul Qadir empat puluh dinar sebagai bekal perjalanan. Agar aman, uang disimpan di sebuah saku yang sengaja dibuat di posisi bawah ketiak. Sang ibunda tak lupa berpesan kepada Abdul Qadir untuk senantiasa berkata benar dalam setiap keadaan. Ia perhatikan betul pesan tersebut, lalu ia keluar dengan mengucapkan salam terakhir. “Pergilah, aku sudah menitipkan keselamatanmu pada Allah agar kamu memperoleh pemeliharaan-Nya,” pinta ibunda Abdul Qadir. Bocah pemberani itu pun pergi bersama rombongan kafilah unta yang juga sedang menuju ke kota Bagdad. Ketika melintasi suatu tempat bernama Hamdan, tiba-tiba enam puluh orang pengendara kuda menghampiri lalu merampas seluruh harta rombongan kafilah. Yang unik, tak satu pun dari perampo...

Kata yang Masuk ke Hati

Dikisahkan Syeikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani bila berceramah menggunakan bahasa yang sangat sederhana. Anak beliau yang telah banyak menuntut ilmu dan gemar berceramah berkata dalam hati, “Jika aku diizinkan berceramah, tentu akan lebih banyak orang yang menangis.” Suatu hari Syeikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani ingin mendidik anaknya. la berkata kepadanya, “Wahai anakku, berdiri dan berceramahlah.” Si anak kemudian berceramah dengan sangat bagus. Namun, tidak ada seorang pun yang menangis dan merasa khusyu’. Mereka bahkan bosan mendengar ceramahnya. Setelah anaknya selesai berceramah Syeikh ‘Abdul Qadir naik ke mimbar lalu berkata, “Para hadirin, tadi malam, isteriku, ummul fuqoro menghidangkan ayam panggang yang sangat lezat, tapi tiba-tiba seekor kucing datang dan memakannya.” Mendengar ucapan ini, para hadirin menangis histeris dan menjerit. Si anak berkata, “Aneh…, aku bacakan kepada mereka ayat-ayat Quran, hadits-h...

Rasul Menahan Lapar

Suatu ketika Rasulullah SAW menjadi imam shalat. Para sahabat yang menjadi makmum di belakangnya mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh Rasulullah bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai sholat, ”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, apakah Anda sakit?” Namun Rasulullah menjawab, ”Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.” Mendengar jawaban ini Sahabat Umar melanjutkan pertanyaannya, ”Lalu mengapa setiap kali Anda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit…” Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya, Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Ternyata perut Rasulullah yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan...

Nenek buang angin

Alkisah, ada seorang nenek tua baru pulang dari pasar melalui jalanan kecil. Tiba- tiba perutnya berontak dan keluarlah angin dari perutnya yang mulas itu dengan suara amat keras. Rupanya si nenek dipasar makan sesuatu yang merangsang keluarnya gas dilambungnya. Ketika si nenek menoleh kebelakang, betapa terkejut dan kagetnya dia karena tepat dibelakangnya ada Nabi Muhammad SAW yang sedang lewat. Masya Allah! Betapa malunya dia karena telah mengeluarkan GAS dengan suara teramat keras dihadapan Rasul Allah!!!. Maka dengan penuh rasa malu dan penyesalan yang luar biasa dengan wajah memelas si nenek meminta maaf kepada Nabi dengan suara bergetar: "Ya Rasulullah, maafkan aku yang telah membuang gas sembarangan dihadapan tuan tanpa kira- kira". "Apa?" Jawab Nabi. "Tolong keraskan suaramu karena aku agak tuli!!!". Si nenek pun beberapa kali minta maaf kepada Nabi dengan suara agak lebih dikeraskan. Namun beberapa kali pula Nabi menyatakan beliau agak TULI. M...

Garam dikira Gula

Suatu pagi Aisyah, istri Nabi yang sering dipanggil Khumairo’ (Wanita yang berkulit cantik dengan rona kemerahan) menyediakan air minum untuk suami tercinta baginda Rasululloh SAW yang sedang menjadi Imam sholat subuh. Ketika selesai sholat, Rasulpun masuk kerumah dan segera duduk untuk menikmati minuman hangat yang disediakan Aisyah. Namun baru sedikit diminum, terasa ada sesuatu yang aneh! Minuman itu bukan terasa manis tapi asin. Rupanya Aisyah telah keliru mengambil garam untuk minum Rasul, padahal seharusnya gula. Nabipun dengan kalem dan sabar memanggil Aisyah dengan panggilan kesayangannya itu : "Ya Khumairo’ kesini!. Yuk kita menikmati minum pagi ini segelas berdua!”. Maka Aisyahpun datang dan duduk dengan manja disamping Nabi. Iapun segera menerima gelas dari tangan Rasul dan mulai meminumnya!. Tiba- tiba wajah Aisyah berubah kecut, malu bercampur takut.Iapun segera tersadar bahwa ia telah keliru mengambil gula. Namun Rasul pun bersabda dengan penuh kesabaran:...

Sahabat Buang Angin

Suatu saat Rasululloh mendapatkan undangan walimah. Disana dihidangkan daging unta panggang. Tiba- tiba ada seorang sahabat yang mengeluarkan angin dengan lirih (kentut) tapi baunya luar biasa dan kemana- mana. Tapi tak seorangpun yang mengaku telah buang angin karena malu. Para hadirinpun bergunjing: “ Lihat saja nanti siapa yang saat sholat berwudhu dulu, berarti dialah yang buang angin”. Mendengar itu Rasulpun dengan jenaka sekaligus agar tidak ada seorangpun yang dipermalukan segera berkata:” Barang siapa yang makan daging unta, maka hendaklah ia berwudhu!”.(H.R.Muslim). Maka selamatlah si sahabat yang buang angin itu atas strategi yang jitu dari Rasululloh SAW. Karena semua hadirin pun berwudhu ketika mau sholat karena semuanya telah makan daging unta bakar tanpa kecuali.

Nabi dan Nenek

Suatu hari datanglah seorang nenek-nenek menemui Rosululloh dan bertanya: "Ya Rosululloh, apakah saya dapat masuk kedalam surga?" Rosululloh pun menjawab :"Maaf Nek, nenek nenek tidak akan masuk surga". Mendengar jawaban tersebut, nenek itupun menangis. Ia pun berfikir dan menerka nerka, mungkin dengan usianya yang tua tersebut pastilah sudah banyak dosa yang ia lakukan. Namun, ternyata Rosululloh belum selesai bicara. Sambil tersenyum, beliau mengatakan :"Janganlah bersedih Nek, memang nenek nenek tidaklah masuk surga namun nenek akan menjadi muda kembali saat memasuki surga tersebut". Mendengar jawaban Rosululloh tersebut, nenek itu pun tersenyum gembira. (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan)

Nabi dan Zahir

Anas ibn Malik meriwayatkan hadis tentang sahabat bertubuh cebol bernama Zahir ibn Haram. Zahir tinggal di desa, bukan di kota bersama Rasulullah dan sahabat lainnya. Zahir rajin mengunjungi Rasulullah dan selalu membawakan buah tangan dari desanya. Sebaliknya, jika Zahir hendak kembali, Rasulullah selalu membekalinya dengan oleh-oleh. Karena proses interaksi yang baik ini, Rasulullah pernah berkata, “Zahir adalah orang desa bagi kita, dan kita orang kota bagi Zahir”. Pernah terjadi kisah menarik antara Rasulullah dan Zahir, tepatnya kisah humor. Suatu hari Zahir sedang berdagang di pasar berteriak menjajakan barang dagangannya. Ketika itu Rasulullah datang dari arah belakang Zahir. Dengan sigap Rasulullah memeluk dan mengangkat tubuh Zahir dari belakang. Zahir tidak tahu siapa orang yang “main-main” dengannya. Ia berontak sambil berusaha melihat ke belakang. Ketika matanya menangkap wajah Rasulullah, ia justru mempererat pelukannya dengan merangkulkan tangan ke...

Lomba Ala Nabi

Aisyah RA berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, saat itu tubuhku masih ramping. Beliau lalu berkata kepada para sahabat beliau, ”Silakan kalian berjalan duluan!” Para sahabat pun berjalan duluan semua, kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.” Aku pun menyambut ajakan beliau dan ternyata aku dapat mendahului beliau dalam berlari. Beberapa waktu setelah kejadian itu dalam sebuah riwayat disebutkan:”Beliau lama tidak mengajakku bepergian sampai tubuhku gemuk dan aku lupa akan kejadian itu.”-suatu ketika aku bepergian lagi bersama beliau. Beliau pun berkata kepada para sahabatnya. “Silakan kalian berjalan duluan.” Para sahabat pun kemudian berjalan lebih dulu. kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.” Saat itu aku sudah lupa terhadap kemenanganku pada waktu yang lalu dan kini badanku sudah gemuk. Aku berkata, “Bagaimana aku dapat mendahului engkau, wah...

Kisah Rasul Makan Kurma

Suatu ketika, Rasulullah SAW bersama para sahabat sedang berbuka puasa. Buah kurma terhidang di depan mereka. Setiap kali mereka makan kurma, biji- biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing- masing. Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan cukup banyak kurma. Jelas saja, biji-biji kurma yang ada di tempatnya menumpuk lebih banyak di bandingkan sahabat yang lain. Muncul keisengan Sahabat Ali. Diam-diam dia memindahkan biji kurma miliknya ke tempat biji kurma milik Rasul. Saat semua biji kurma sudah berpindah tempat, Ali menggoda Rasul. "Wahai Nabi tampaknya engkau begitu lapar. Sehingga makan kurma begitu banyak. Lihat biji kurma di tempatmu menumpuk begitu banyak." Bukannya terkejut atau marah, sambil tersenyum Nabi membalas keisengan Ali. "Ali, tampaknya kamulah yang sangat lapar. Sehingga engkau makan berikut biji kurmanya. Lihatlah, tak ada biji tersisa di depanmu."